Latest News
Freeport Gelar Upacara HUT RI di 5 Tempat, Presdir Tony Wenas Tekankan Utamakan Safety Keselamatan Kerja • DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE 81 • Polres Mimika Raih Predikat Pelayanan Publik Terbaik, Bersiap Naik Status Jadi Polresta • Jurnalis Perempuan Kabupaten Mimika Turut Meriahkan Lomba Gerak Jalan Kreasi HUT ke-81 RI • HUT RI ke-81, 130 Pelajar Meriahkan Karnaval Budaya di Mimika • Freeport Gelar Upacara HUT RI di 5 Tempat, Presdir Tony Wenas Tekankan Utamakan Safety Keselamatan Kerja • DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE 81 • Polres Mimika Raih Predikat Pelayanan Publik Terbaik, Bersiap Naik Status Jadi Polresta • Jurnalis Perempuan Kabupaten Mimika Turut Meriahkan Lomba Gerak Jalan Kreasi HUT ke-81 RI • HUT RI ke-81, 130 Pelajar Meriahkan Karnaval Budaya di Mimika
← Back to News

Lebih dari Sekadar Rumah Sakit, RS Mitra Masyarakat Telah Menjadi Rumah bagi Tujuh Suku Selama 27 Tahun

📅 August 07, 2026 Updated: August 07, 2026

Lebih dari Sekadar Rumah Sakit, RS Mitra Masyarakat Telah Menjadi Rumah bagi Tujuh Suku Selama 27 Tahun
TIMIKA,RPM- Pagi belum sepenuhnya terang ketika seorang ibu melangkah perlahan memasuki lobi Rumah Sakit Mitra Masyarakat. Di pelukannya, seorang balita masih terlelap dengan tubuh yang sesekali menggigil. Sang ibu tidak banyak berbicara. Tatapannya hanya tertuju ke meja pendaftaran, seolah di sanalah harapan baru akan dimulai.

Beberapa meter dari tempatnya berdiri, seorang kakek dari pedalaman duduk dengan tenang. Kulitnya yang legam terbakar matahari dan telapak tangannya yang kasar menceritakan perjalanan hidup yang panjang. Sesekali ia memandang orang-orang yang lalu-lalang di lorong rumah sakit. Bahasa Indonesia belum begitu akrab di lidahnya. Namun ia percaya, orang-orang yang mengenakan jas putih itu akan memahami rasa sakit yang tak mampu ia jelaskan dengan kata-kata.

Di sudut lain, seorang ayah muda menggenggam erat map berisi hasil pemeriksaan. Berkali-kali ia melihat pintu ruang praktik dokter spesialis yang belum juga terbuka. Sesekali ia menarik napas panjang, lalu menatap anaknya yang duduk di samping. Tidak ada yang mampu ia lakukan selain menunggu.

Pagi itu, mereka tidak saling mengenal.

Mereka datang dari tempat yang berbeda. Ada yang berasal dari pesisir Kamoro, ada yang turun dari lembah-lembah di tanah Amungme, ada pula yang menempuh perjalanan jauh dari kampung-kampung di wilayah lima suku kekerabatan. Kini, di antara mereka juga hadir warga dari berbagai penjuru Mimika yang datang dengan tujuan yang sama.
Mencari kesembuhan.

Tak ada yang bertanya dari suku mana mereka berasal.

Tak ada yang peduli bahasa apa yang mereka gunakan.

Di rumah itu, semua dipersatukan oleh harapan.

Rumah itu bernama Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM).

Sudah 27 tahun rumah itu berdiri.

Jauh sebelum Kabupaten Mimika memiliki rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) , RSMM telah lebih dahulu membuka pintunya bagi masyarakat. Rumah sakit ini merupakan milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), lembaga yang mengelola dana kemitraan dari PT Freeport Indonesia (PTFI). Kehadirannya menjadi bagian dari komitmen untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama melalui pelayanan kesehatan bagi Orang Asli Papua.

Pada awal berdirinya, RSMM dipersembahkan untuk masyarakat Amungme dan Kamoro sebagai pemilik hak ulayat, serta lima suku kekerabatan lainnya yang menjadi wilayah pemberdayaan YPMAK. Di tempat inilah ribuan cerita lahir setiap hari. Ada bayi yang menangis untuk pertama kalinya. Ada pasien yang akhirnya pulang setelah berminggu-minggu dirawat. Ada pula keluarga yang belajar menerima kehilangan dengan hati yang tabah.

Waktu terus berjalan.

Mimika tumbuh menjadi kabupaten yang semakin ramai. Jalan-jalan mulai dipenuhi kendaraan, permukiman bertambah, dan kebutuhan pelayanan kesehatan ikut meningkat. RSMM pun ikut berubah. Rumah sakit ini membuka pintunya lebih lebar. Kini, siapa pun dapat memperoleh pelayanan, tanpa membedakan suku maupun latar belakang. Peserta BPJS Kesehatan juga dilayani sesuai mekanisme rujukan yang berlaku.

Namun, satu hal tidak pernah berubah.

Semangat untuk melayani.

Marketing Corporate RS Mitra Masyarakat, Cisilia Fairyo, Saat hadir mengisi acara lintas informasi kota Timika di Radio Publik Mimika (RPM) beberapa waktu lalu mengatakan semangat itulah yang terus dijaga hingga kini. Memasuki usia ke-27 tahun, RSMM terus melengkapi layanan dokter spesialis agar masyarakat Mimika tidak lagi harus mengeluarkan biaya besar untuk berobat ke luar Papua.

"Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa layanan dokter spesialis sudah tersedia di RS Mitra Masyarakat. Jadi tidak perlu lagi keluar daerah untuk mendapatkan pelayanan tersebut. Kami siap melayani masyarakat dengan sepenuh hati," ujarnya.

Kini, dokter spesialis ortopedi, mata, THT, jantung, saraf, penyakit dalam, bedah, kebidanan dan kandungan, serta spesialis anak hadir melayani masyarakat. Berbagai fasilitas seperti CT Scan, USG, USG jantung, ambulans, hingga ruang rawat inap juga terus dikembangkan sebagai bagian dari komitmen meningkatkan kualitas pelayanan.

Namun, di Papua, tantangan pelayanan kesehatan tidak selalu berkaitan dengan alat medis.

Kadang, tantangan itu hadir dalam bentuk bahasa.

Ada pasien yang datang dari pedalaman dan hanya mampu berbicara dalam bahasa daerahnya. Ketika itu terjadi, keluarga pasien menjadi penerjemah. Jika keluarga pun tidak memahami bahasa Indonesia, tenaga kesehatan meminta bantuan pegawai lain yang menguasai bahasa daerah. Bahkan, pernah suatu hari mereka meminta bantuan warga di sekitar rumah sakit untuk menerjemahkan percakapan dengan seorang pasien.

Bagi Cisilia, memahami bahasa pasien sama pentingnya dengan memahami penyakit yang dideritanya.

"Yang paling penting bagi kami adalah pasien memahami tindakan medis yang akan diberikan. Komunikasi yang baik menjadi bagian dari keberhasilan pengobatan," katanya.

Cerita lain dimulai setiap kali pintu Instalasi Gawat Darurat terbuka.

Di ruangan itu, dr. Armid Haleluya Waly bersama tim medis selalu memulai pelayanan dengan satu langkah sederhana namun penting, yaitu skrining.

Bukan untuk memperlambat penanganan, tetapi untuk memastikan setiap pasien memperoleh tindakan yang tepat.

"Kami tidak langsung memberikan tindakan. Semua pasien menjalani skrining terlebih dahulu agar penanganannya tepat. Dari hasil pemeriksaan awal itu baru diputuskan apakah pasien membutuhkan tindakan darurat atau diarahkan ke dokter spesialis," jelasnya.

Menurut dr. Armid, masih banyak masyarakat yang datang ketika penyakit sudah berada pada kondisi berat. Padahal, kesempatan sembuh akan jauh lebih besar jika pengobatan dilakukan sejak gejala pertama muncul.

"Kalau sudah mulai merasakan gejala sakit, segera datang ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu sampai penyakit menjadi parah. Semakin cepat ditangani, peluang kesembuhannya juga semakin baik," pesannya.

Selama 27 tahun, ribuan orang telah datang dan pergi dari rumah ini. Mereka membawa kisah yang berbeda-beda, tetapi meninggalkan satu jejak yang sama—kepercayaan.

Kepercayaan bahwa di tanah Amungme dan Kamoro, berdiri sebuah rumah yang tak pernah menanyakan siapa Anda sebelum memberikan pertolongan.

Sebuah rumah yang lahir dari kepedulian YPMAK melalui dana kemitraan PT Freeport Indonesia, yang terus bertumbuh bersama masyarakat Mimika.

Dan selama 27 tahun itu pula, RS Mitra Masyarakat membuktikan bahwa menjadi rumah sakit bukan hanya tentang mengobati penyakit.

Tetapi tentang menjaga harapan, merawat kemanusiaan, dan memastikan setiap orang yang datang dapat kembali pulang dengan keyakinan bahwa mereka tidak pernah berjuang sendirian.